Catatan Akhir Pekan

Posted by Faisal Muchtar Al Khaufi Minggu, 01 Februari 2015 0 komentar
Adsense Content. recommended 336 X 300
Catatan Akhir Pekan
Renungan akhir Pekan
Membeli Waktu
Pada suatu hari, seorang Ayah pulang
dari bekerja pukul 21.00 malam.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu
sangat melelahkan baginya.
Sesampainya di rumah ia mendapati
anaknya yang berusia 8 tahun yang
duduk di kelas 2 SD sudah
menunggunya di depan pintu rumah.
Sepertinya ia sudah menunggu lama.
“Kok belum tidur?” sapa sang Ayah
pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia
pulang kerja, dan baru bangun ketika
ia akan bersiap berangkat ke kantor di
pagi hari.
“Aku menunggu Papa pulang, karena
aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”,
kata sang anak.
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa
segala? Kamu mau minta uang lagi
ya?”, jawab sang ayah.
“Ah, nggak pa, aku sekedar..pengin
tahu aja…” kata anaknya
.
“Oke, kamu boleh hitung sendiri.
Setiap hari Papa bekerja sekitar 10
jam dan dibayar Rp.400.000. Setiap
bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.
Jadi gaji Papa satu bulan berapa,
hayo?!”, tanya sang ayah.
Si anak kemudian berlari mengambil
kertas dari meja belajar sementara
Ayahnya melepas sepatu dan
mengambil minuman.
Ketika sang Ayah ke kamar untuk
berganti pakaian, sang anak
mengikutinya.
“Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp
400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam
Papa digaji Rp 40.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur
ya..sudah malam!”
Tapi sang anak tidak mau beranjak.
“Papa, aku boleh pinjam uang Rp
10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta
uang malam-malam begini. Sudah,
besok pagi saja. Sekarang kamu tidur”
“Tapi papa..”
“Sudah, sekarang tidur” suara sang
Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju
kamarnya.
Sang Ayah tampak menyesali
ucapannya. Tak lama kemudian ia
menghampiri anaknya di kamar. Anak
itu sedang terisak-isak sambil
memegang uang Rp 30.000.
Sambil mengelus kepala sang anak,
Papanya berkata “Maafin Papa ya!
Kenapa kamu minta uang malam-
malam begini.. Besok kan masih bisa.
Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu
juga boleh. Kamu mau pakai buat beli
mainan khan?”
“Papa, aku ngga minta uang. Aku
pinjam…nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang
jajanku.”
“Iya..iya..tapi buat apa??” tanya sang
Papa.
“Aku menunggu Papa pulang hari ini
dari jam 8. Aku mau ajak Papa main
ular tangga. Satu jam saja pa, aku
mohon. Mama sering bilang, kalau
waktu Papa itu sangat berharga. Jadi
aku mau beli waktu Papa. Aku buka
tabunganku, tapi cuma ada uang Rp
30.000. Tadi Papa bilang, untuk satu
jam Papa dibayar Rp 40.000.. Karena
uang tabunganku hanya Rp.30.000,-
dan itu tidak cukup, aku mau pinjam
Rp 10.000 dari Papa” Sang Papa cuma
terdiam.
Ia kehilangan kata-kata. Ia pun
memeluk erat anak kecil itu sambil
menangis. Mendengar perkataan
anaknya, sang Papa langsung terdiam,
ia seketika terenyuh, kehilangan kata-
kata dan menangis..
Ia lalu segera merangkul sang anak
yang disayanginya itu sambil
menangis dan minta maaf pada sang
anak..
“Maafkan Papa sayang…” ujar sang
Papa.
“Papa telah khilaf, selama ini Papa
lupa untuk apa Papa bekerja keras.
Maafkan Papa anakku” kata sang Papa
ditengah suara tangisnya.
Si anak hanya diam membisu dalam
dekapan sang Papanya.
==================================
===============
Saya ingin bertanya kepada Anda saat
ini..
Sebetulnya, apakah alasan Anda untuk
bekerja sangat keras dan mencari
kesuksesan karir Anda?
Demi uang yang banyak? Atau
sesungguhnya demi keluarga Anda?
Seringkali kita bekerja terlalu sibuk
sehingga kita melupakan bahwa di
akhir, keluargalah yang terpenting.
Tidak ada gunanya Anda sukses tapi
pada akhirnya keluarga Anda telah
meninggalkan Anda atau hubungan
Anda dengan keluarga telah rusak.
Sesungguhnya, untung anak tersebut
bicara dan komunikasi dengan orang
tuanya untuk mencurahkan
perasaannya.
Sering kali, anak cenderung diam dan
bahkan tidak berbicara sama sekali
tentang kondisinya kepada orang tua.
Ketika di tanya mereka hanya
menjawab “Tidak ada apa-apa”
Bagaimana caranya Anda bisa
menyelesaikan masalah jikalau Anda
bahkan tidak tahu masalahnya
dimana?
Hal ini sering kali terjadi pada anak
dan khususnya terjadi pada anak di
masa remaja.
Mereka merasa diabaikan/
ditinggalkan, tidak di cintai, tidak
dihargai oleh orang tuanya sendiri..
Pertanyaan berikutnya mungkin cukup
berat untuk Anda..
“Menurut Anda, lebih baik Anda
mencintai anak Anda atau Anak Anda
merasa di cintai oleh Anda?”
Adsense Content. bottom of article

0 komentar:

Posting Komentar